Bangsa ini tidak kenal antri & disiplin!!

12 03 2008

Senin kemarin, 10 Maret 2008, saya berangkat dari rumah [mampang-gatot soebroto] jam 07.45 wib. Biasanya, sampai kantor jam 08.15 wib atau selambat-lambatnya jam 08.45 wib. Tapi hari itu, saya sampai di kantor jam 09.58 wib! Astaganaga!!!

Memang arah perjalanan saya yang harus melewati daerah mampang sudah terkenal macetnya [tapi di Jakarta ini mana ada sih jalanan yang gak macet?] yang nauzubilahmindjalik!!!  

Dan yang bikin saya jengkel adalah, jalur di daerah mega kuningan [sekitar menara dea] yang harusnya dua arah, disulap menjadi searah saja oleh pengendara kendaraan yang tidak sabar [tidak mau] antri! Sepertinya buru-buru ingin cepat sampai! Lho, memang saya ini juga gak ingin buru-buru sampai? Hari itu saya ada meeting jam 9 pagi. Tapi karena saya memegang teguh peraturan untuk tetap antri, maka terpaksa saya terima dimaki-maki rekan se-team yang harus ikutan meeting jam 9 pagi.

Alhasil, gara-gara tidak disiplin antri tsb, jalan malah makin parah macetnya. Ampuuunnn!!!

Sudah macet gitu, masih ada mobil-mobil yang parkir sembarangan. Masak jalan dipakai buat parkir? Yang bener saja?! Sudah gitu, tidak ada penanganan dari petugas lagi! Kerja donk.. ayo kerjaaa!!! Aduhhh, parah banget sih bangsa ini!!!  Mari saya perlihatkan hasil jepretan saya kala itu. Gambar lebih banyak berbicara.   

antrian panjang, tapi masih rapih.

antri masih lumayan rapih

satu persatu mulai gak sabaran. gak mau antri, main serobot.

serobot yuuuk

serobot lagi

lagiii

dan lagii

ampuunn lagii

huh lagi

lagiiii

gara2 kendaraan2 di atas yang main serobot gak mau antri, maka terjadilah kemacetan parah ini:

macet parah 1

parah1

macet parah 2

parah2

macet parah 3

parah niy

macet parah 4

makin parah

akhirnya pada berebutan jalan, semrawut. kacaw!

rebutan

adakah mobil anda masuk dalam bidikan kamera saya? :)

sempet2nya ada juga mobil yang parkir ngawur diantara kemacetan tsb. ckk.. ckk…

ngawur 1

kacaw1

ngawur 2

kacaw2




Perempuan adalah Serigala bagi Perempuan Lain

12 03 2008

womenwomenilupus.jpg

Tidak mudah untuk mendapatkan buku women womeni lupus ini. Bahkan saya perlu untuk menghubungi pak faruk penulisnya yang ternyata sekarang bekerja [menetap?] di Australia 

Penulis mengisahkan kehidupan ibu kandungnya dan ibu-ibu tirinya. Sebagai isteri kedua, ibunya mendapat serangan dan hinaan dari isteri pertama yang bersekutu dengan isteri ketiga. Perlakuan tersebut melahirkan dendam di dada isteri kedua. Dendam itu berhasil terbalaskan ketika hadir isteri keempat, sampai-sampai isteri ketiga tersingkirkan.  

Lucu bukan?

Selain lucu, juga ironis.   

Perempuan-perempuan tadi saling mencakar, saling menyikut, saling serang, saling tampar… terhadap sesamanya, tapi tidak pernah menumpahkan kekesalan & amarah ke sumber masalah, yaitu SUAMI. Malah sebaliknya, suami ditempatkan sebagai pria perkasa karena sukses mengumpulkan perempuan-perempuan yang saling cakar dalam satu rumah yang sama.  

Menurut Faruk penulis ini, women womeni lupus akan selalu terjadi bila perempuan ditempatkan sebagai object. Perempuan akan saling adu kecantikan, adu keseksian, adu cari perhatian… agar dapat memenangkan pertandingan yang diselenggarakan oleh object – yaitu pria. Dan definisi serta kriteria pemenang bagi subject adalah perempuan yang berhasil merebut perhatian pria, yang berhasil membentuk kepribadian & fisiknya sesuai definisi & kriteria dari budaya yang dianut subject.  

Tidak salah kalau kemudian ada definisi bahwa perempuan baik-baik adalah perempuan yang punya kemampuan untuk menjaga dirinya dari sentuhan kaum pria, sementara perempuan yang punya banyak kekasih seringkali mendapat predikat sebagai: perempuan nakal. Tidak ada julukan pria nakal bagi mereka yang punya banyak kekasih. Justru kondisi tersebut seringkali dianggap sebagai sesuatu hal yang wajar. Malah mendapat predikat: playboy, don juan, etc. Dan hampir kebanyakan pria, bangga atas julukan tsb.  

Jadi jelaslah, bahwa eksistensi & identits perempuan ada dalam kuasa kaum pria. Dan selama perempuan masih saja bergelut di dunia object, perempuan akan selalu menjadi women womeni lupus, tega mencakar & memangsa perempuan lain.  

Hal yang sebenarnya patut disayangkan, karena peperangan sesama object justeru akan mengaburkan & menjauhkan pokok atau sumber masalah. Harusnya, mereka saling kompak dan bersekutu, untuk mendaratkan cakaran & tamparan tsb ke wajah si subject – sang pembuat masalah.  

Kasus: Bambang-Halimah-Mayangsari, bisa kita jadikan sebagai contoh bukan?

Ada yang punya contoh kasus lain?




lesbian: alternatif pilihan?

18 04 2007

http://www.antara.co.id/arc/2007/3/5/banyak-tkw-di-hongkong-nikah-sesama-jenis/

Banyak TKW di Hongkong “Nikah” Sesama Jenis

Surabaya (ANTARA News) - Sejumlah tenaga kerja wanita asal Indonesia (TKW) yang bekerja di Hongkong dalam setahun terakhir mulai banyak yang terjangkiti
“pernikahan” sesama jenis (lesbian).

Tania Roos, salah seorang TKW asal Malang dalam surat eletroniknya kepada ANTARA News di Surabaya, Senin, menjelaskan bahwa perkawinan lesbian mulai marak setahun terakhir dan awalnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

“Bahkan memasuki acara mereka ada tanda khusus, apakah mereka kalangan sendiri atau orang lain. Saya bisa masuk ke perkawinan mereka dan mendapatkan fotonya karena saya berpura-pura menjadi pasangan lesbian,” katanya.

Namun, katanya, saat ini perkawinan lesbian itu mulai dilakukan secara terang-terangan. Pada 25 Pebruari 2007 lalu dia mendapatkan undangan sebagaimana layaknya undangan pernikahan di Indonesia. Acara itu akan dilaksanakan pada 11 Maret mendatang.

Ia memperkirakan, mereka melakukan pernikahan lesbian secara tertutup karena takut diketahui oleh keluarganya di Indonesia.

“Menurut orang yang menjadi `penghulu`, sudah ada 12 kali pernikahan sesama wanita Indonesia. Itu baru satu penghulu dan kemungkinan ada penghulu lain. Yang menjadi penghulu adalah sesama TKW yang orangnya tomboi,” katanya.

Mengenai proses pernikahan yang terang-terangan, mereka biasanya mengundang temannya menghadiri pernikahan dengan cara ditelepon dan baru kali ini dirinya mendapatkan undangan tertulis.

“Mengenai fenomena ini, ada yang cuek, ada yang prihatin dan ada yang menolak tetapi tak bisa berbuat apa-apa karena itu hak azazi mereka,” kata TKW yang juga penulis cerita pendek (cerpen) dan puisi itu.

Ia menceritakan, meskipun pasangan itu “resmi menikah”, namun mereka tidak bisa hidup satu rumah, melainkan hidup di rumah majikannya masing-masing.

“Biasanya mereka menyewa hotel untuk berkumpul pada hari-hari libur, lalu kalau waktunya jam pulang libur, ya berpisah kembali,” kata Tania.

Menurut dia, diperkirakan mereka melakukan pernikahan sejenis, selain karena jarangnya teman laki-laki asal Indonesia di Hongkong, kemungkinan juga disebabkan karena tersakiti laki-laki, baik suami maupun pacarnya.(*)

****

pernah ngebayangin kalau suatu saat nanti perempuan ‘gak doyan’ pria lagi?

bila tak ingin itu terjadi, selama masih ada kesempatan, buatlah perempuan hidup sejajar dengan kaum pria. sehingga perempuan merasa PD untuk berhubungan dengan pria.




pengin punya anak..

18 04 2007

usia pernikahan ku [dan dia] udah memasuki tahun ke 4. udah saatnya kuatir belum sih, kalau kami belum juga punya momongan?

itu sebabnya, suami kugeret2 tak ajak ke anyer. gak perlu kuceritain apa aja aktivitas di sana, kan? :D

so, jadilah rangkaian foto yang kuberi judul: anyer 10 maret 15 april 2007. hehehe..

anyer 15 april




junania mercy: salah siapa?

16 03 2007

Membaca berita serta tanggapan dari berbagai pihak dalam mengomentari kasus seorang ibu (junania mercy) yang tega meracuni ke 4 anaknya sampai meninggal, dan kemudian setelah memastikan ke 4 anaknya sudah meninggal, maka dia sendiri memutuskan untuk bunuh diri… membuat hati saya teriris-iris.

Tapi saya tidak akan menyalahkan 100% ke pundak ibu tsb.   Coba kita perhatikan sebentar kalimat ini:  “…Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, pelaku diduga nekat berbuat demikian karena kesulitan ekonomi sebagai buntut pertengkaran dengan suaminya. Pelaku harus menghidupi empat anaknya seorang diri karena suaminya jarang berada di rumah..” 

Selengkapnya ada di sini:   http://www.waspada.co.id/berita/nasional/artikel.php?article_id=86549  

Itu sebabnya, tidak 100% kesalahan ada di tangan almarhum junania mery. Suaminya juga punya andil dalam kesalahan, dan bahkan kita juga punya andil dalam kesalahan itu.   

Lho kok kita jadi diikut-ikutkan? Masak ngatain si ibu itu bertindak kejam & biadab adalah salah? Yang bener aja… masa gak boleh komentar?   Iya donk! Di dalam hati kita sering kali melakukan penilaian-penilaian: “Ah, tega banget sih ke anak sampai membunuh!”“Ah, dasar perempuan, selalu pikirannya cupet!” dsb.  Kita (masyarakat) suka lupa kalau kita ini sebenarnya secara tidak langsung ikut menciptakan atau membentuk pribadi seorang ibu menjadi tega membunuh anaknya.  

Ketika seorang perempuan yang punya anak, berjalan sendirian, seringkali keluar kalimat: “Lho anaknya kok gak diajak?” Padahal ketika kita melihat seorang pria yang punya anak berjalan sendirian, kita lebih sering memakluminya.   Ketika kita mendengar tetangga sebelah anaknya menangis keras, kita sering bergumam: “kemana sih ibunya? Bisa gak sih ngurus anak?”  

Ato lagi: “..markonah, jumilah, rohayati, junania… anakmu sudah dibawa suntik vaksin belom?  dst.  

Sehingga secara tidak langsung, seorang perempuan yang seorang ibu, akan selalu ‘membawa anak’ nya. Dia tidak akan pernah meminta atau menyuruh suami untuk ‘membawa’ si anak. Apa kata masyarakat nanti.   Jadi, ketika seorang ibu dihimpit masalah, dan merasa sudah tidak kuat lagi menanggung beban, dia akan ‘membawa serta’ anaknya. Dan akan ‘membebaskan’ suaminya. Mungkin, secara tidak sadar, ada kekuatiran, di alam sana nanti, akan ada pertanyaan-pertanyaan yang sama seperti yang ditemuinya di dunia ini: “Kok anaknya gak diajak?”  

Mungkin lho.. eh, mungkin gak sih?




perempuan harus bisa bela diri?

7 03 2007

Harus?  Yup!

Kenapa?

Karena (menurut saya) harga diri perempuan itu terletak pada kemampuan dia dalam menjaga nama baiknya.  

Dan menurut mbak Dinda seperti yang dimuat di Jurnal Nasional ini: http://www.jurnalnasional.com/new2/?KR=JURNAS&NID=21470      

Salah satu caranya: dengan belajar ilmu bela diri.  

Nah, bela diri apa yang anda pilih? Yang anda sukai?

Saya: karate, sudah 3 tahun mempelajarinya.  

Dan gak cukup dengan bela diri, saya juga menyiapkan ‘senjata’ yang selalu saya bawa kemana-mana.

Jenisnya? Rahasia.  

Tapi kalau ada yang tertarik, silahkan mengunjungi toko ‘senjata’ langganan saya yang lokasinya di Roxy, Jakarta Pusat. Saya membelinya dari sana.

Pesan on line juga bisa kok,

silahkan kunjungi: http://www.my-toserba.com/  

Tunggu apalagi? :)




Ancaman Bom, sebaiknya ditanggapi: serius atau santai?

3 03 2007

Hari ini ada beberapa perkerjaan yang harus saya rampungkan. <strike>termasuk ngeblog</strike>  sehingga saya telfon ke suami untuk bilang: akan pulang malam. Jam 9 malam, tiba-tiba security kantor mengetuk ruangan saya, sambil menyerahkan foto kopi fax yang isinya: sebuah ancaman bom!  Ini adalah ke tiga kalinya saya mengalami ancaman bom di kantor. Tapi, yang pertama & kedua, kejadiannya siang hari. Sempat terjadi evakuasi saat itu. Sempat berdatangan tim gegana & bejibun polisi. Tapi setelah harus turun melalui tangga [bukan lift] dari lantai 9, ternyata: ancaman itu tidak terbukti.   Sekarang ancaman itu datang lagi. Bisa dilihat di foto. Di situ tertulis, akan ada peledakan besok di gedung tempat saya ngantor.  Begitu terima fax tsb dari security, saya langsung memasukkan barang-barang saya ke dalam tas. Lalu siap-siap pulang. Di depan lift, security2 pasang sikap siaga. Tangan istirahat di belakang. Saya pencet angka 1. dan begitu sampai lobby (lantai 1) saya ternganga. Di
sana sudah banyak berkumpul polisi2 dan security yang berjaga-jaga. Juga beberapa rekan wartawan yang memegang kamera.  
Saya sempet mengabari suami tentang ancaman ini, dan dia menyuruh saya pergi segera dari lokasi tsb. Sebelum sampai parkiran, saya sempat melihat sekeliling halaman depan. Di situ masih ada satu rangkaian bunga duka cita buat alm. Mohammad Guntur.
Ada mobil polisi. Juga motor polisi. Waktu saya ambil gambar ini, seorang polisi sempet menegur saya (sopan). Jadi, saya gak sempet mem-photo dengan jelas, gak enak.  Setelah itu, saya langsung starter mobil, pulang. Ancaman peledakan itu, akan dilaksanakan besok. Saya ada kerjaan besok di kantor. Urgent. Haruskah saya menjauh dari ancaman? Atau tetap ngantor, karena hal itu hanya ancaman iseng belaka?




Istri wajib masak! O ya? Wajib?

1 03 2007

Sebuah artikel di sebuah majalah nikah bernafaskan suatu agama, mengatakan:  

Apa saja kewajiban seorang istri? Salah satunya selain mengatur rumah tangga adalah memasak makanan untuk suaminya. Oleh karena itu, penting juga bagi seorang wanita untuk bisa atau pintar masak.  

 

Jadi, kalau istri gak pinter masak & meskipun telah berusaha tapi ternyata hasilnya gak enak, suami berhak protes & marah?  

 

Masak Tidak Enak, Istri Dianiaya Suami 

http://news.indosiar.com/news_print.htm?id=58830  

indosiar.com,
Balikpapan - Seorang suami di
Balikpapan, Kalimantan Timur dilaporkan telah menganiaya istrinya hingga tidak sadarkan diri hanya karena sarapan yang disiapkan sang istri kurang enak dimakan. Sebuah rumah di Jalan Blora RT 9 No.66 Kelurahan Klandasan Ilir Balikpapan Selatan Minggu (11/02/07) kemarin, didatangi aparat kepolisian Polresta
Balikpapan untuk menjemput Agus Areh Setiawan yang dilaporkan telah menganiaya Deliana istrinya.  

Menurut korban Deliana, kekerasan ini bermula saat ia menghidangkan sarapan pagi untuk suaminya. Namun sayangnya, bukan pujian yang diterima korban tapi justru makian dan pukulan. Selain mengatakan masakan istrinya tidak enak, Agus juga menendang dan membenturkan kepala istrinya ke tembok hingga dua kali. Pelaku juga mengambil air panas dan disiramkan ke tubuh istrinya 

 

Wow! Mengenaskan sekali!  

Di dunia ideal, tidak akan ada masalah bila pembagian tugas seperti: suami harus… istri harus… Sayang kita suka lupa, bahwa dunia ini berjalan dengan tidak ideal, jadi pengkotak-kotakan tugas suami-istri, justru membuat jurang diantara mereka semakin menganga.  

Seharusnya, di dunia yang tidak ideal ini, tidak perlu ada pembagian tugas yang didasarkan atas pendapat masyarakat, suku, agama, dll.  

Seharusnya, pembagian tugas suami istri didasarkan pada kebutuhan di keluarga masing-masing, sesuai kebutuhan suami-istri masing-masing. Tidak perlu ada yang namanya wajib & harus, karena yang penting adalah peran untuk saling mengisi kekurangan dan kelebihan di masing-masing rumah tangga.  

 

Saya pribadi memang hobi memasak. Jadi saya tidak keberatan untuk masakin buat suami. Saya asyik-asyik saja ngejalaninnya. Tapi ini bukan wajib. Bila saya lagi malas masak, saya akan bilang apa adanya. Tidak ada masalah. Kadang suami yang mengambil peran masak dalam rumah tangga kami. Well, memang sih.. menunya gak jauh-jauh dari indo mie atau terong bakar & sambal tomat serta telor dadar. Tapi cukup lezat kok. Dan kalau memang dua-duanya lagi sama-sama males, ya udah… tinggal makan aja di luar.




3 pria yang telah mengecawakanku..

24 02 2007

Bukan. Bukan AA Gym yang bikin saya kecewa. Saya sih, gak ambil pusing dengan beliau. Karena sudah sejak lama, saya tidak pernah mengidolakan para ulama lagi. Saya cukup PD untuk berhubungan langsung dengan Tuhan saya, tanpa butuh PR-broker-perantara dll.  

Ini lain.  

Duluuu… saya mengagumi mantan atasan saya di perusahaan yang lama, karena beliau begitu peduli terhadap anak & istrinya. Sampai kemudian dia berselingkuh & istrinya meninggal karena minum baygon. Betul, saya masih menjalin silaturahmi dengan beliau, tapi respek saya ke beliau sudah hilang.  

 

Dua-tiga tahun lalu, saya mengagumi atasan saya yang sekarang, karena dia di setiap kesempatan, selalu menceritakan kehebatan istrinya. Bahkan saya sempat iri dengan keharmonisan mereka berdua. Tapi setahun belakangan semenjak dia menceraikan istrinya dan kemudian menjalin hubungan dengan mantan anak buahnya yang lebih menggairahkan, respek saya juga menghilang. Sekarang-sekarang ini, saya tidak pernah lagi bicara lebih jauh ke dia. Saya menjaga jarak. Hubungan saya sebatas profesionalisme. That’s it. 

Kemudian yang baru kejadian. Saya mengagumi seorang wartawan senior di Jakarta ini. Saya salut terhadap nilai-nilai yang dianutnya. Saya belajar banyak tentang bagaimana membela kaum lemah. Tapi, sekarang2 ini, karena pembelaannya yang luar biasa terhadap teman dekatnya yang salah, sampai mengaburkan fakta yang ada, membuat respek saya berkurang drastis. Saya memang tidak bisa mengatur dia untuk bersikap sesuai yang saya mau, tapi juga tak ada seorangpun, yang bisa melarang saya untuk tidak respek ke dia lagi. Hah, segitu dowank ternyata… seharusnya, teman yang melakukan kesalahan, kita harus berani mengatakan bahwa dia telah salah. Seharusnya…  

Saya jadi memahami, kenapa dokter yang melakukan mal praktek, dibela rekan sejawatnya.Saya jadi memahami, kenapa tentara yang melakukan pembunuhan, dibela rekan sejawatnya.Saya jadi memahami, kenapa koruptor dibela oleh rekan & sahabat2nya.  

Saya jadi tidak ingin lagi peduli terhadap kaum lemah: perempuan, orang miskin, petani dll. Bodo amat.

Lebih baik saya cuek saja. Mikir buat keuntungan diri sendiri aja-lah. Sukur2 bisa cari2 keuntungan di belantara negara yang korup ini.

sekian curhat saya.. 

 




Bagi perempuan: punya anak… kewajiban kah?

24 02 2007

Di Jepang, perempuan semakin tidak menginginkan menikah, apalagi punya anak. Punya anak dianggap sangat merepotkan.  

oOo 

http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/asia-pacific/3694230.stm  
Japan’s women wary to wed

Twenty years ago, women like Ms Endo would have had a wedding ring on her finger and children at her feet. But changing expectations, both of relationships and careers, mean women across Japan, from school-leavers to members of the royal family, are grappling with a choice between traditional roles and modern freedoms. “I’m not against marriage. It’s just not happening to me now,” she said, pointing out that long working hours followed by evening school left her with no time to date.

She said she loved children, but when asked if she worried about her biological clock, she replied: “If I have the time, then I’ll have to think about it.”

oOo  

Itu sebabnya, di Jepang sekarang ini, angka tingkat kelahirannya cukup rendah, dan membuat pemerentah jepang kuatir.  

oOo 

http://www.kompas.co.id/ver1/Kesehatan/0612/18/072824.htm

Jepang akan tingkatkan angka kelahiran di negaranya.

Jepang sudah bisa dipastikan akan memiliki tingkat kelahiran yang lebih rendah di masa datang. Penyebabnya adalah para wanita lebih memilih untuk tetap singel atau menunda pernikahan. Tingkat kesuburan Jepang telah mencapai rekor terendah, yakni seorang wanita hanya melahirkan 1,25 anak sepanjang selama hidupnya berdasarkan penelitian tahun 2005.

Hal itu menimbulkan kekhawatiran soal kekurangan tenaga kerja di masa datang dan juga beban pemeliharaan kesehatan di Jepang di kemudian hari. Menurut Nihon Keizai Shimbun, pada 2050 seorang wanita Jepang rata-rata hanya akan melahirkan 1,2 anak sepanjang hidupnya.

oOo  

see…?  Jadi, kaum cowok nih, kalau emang gak mau ribet gentian mengasuh anak [cuci botol susu, gantiin popok, bangun tengah malem krn si kecil nangis, dll], jangan pernah maksa cewek hamil & ngelahirin ya?